Jumat, 18 Februari 2011

FUNGSI DAN KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAMI



BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bidang bimbingan, Corey (1996: 90-444) menunjukan ada sembilan pendekatan dalam konseling, yaitu: Psikoanalitik, Adlerian, Person, Centered, Sistems, masing-masing pendekatan tersebut dibangun diatas konsep dasar tentang “Hakekat manusia” yang diyakini kebenarannya oleh ,masing-masing aliran, tetapi ternyata sejumlah konsep dasar tersebut dinilai oleh corey (1982) dan juga oleh para ahli di Indonesia seperti M.D. Dahlan (1988), dan Djamaluddin Ancok (1994) mengandung sejumlah kekurangan yang perlu disempurnakan.
Teori-teori bimbingan dan konseling yang selama ini dikembangkan lebih mendasarkan pada acuan “filsafat” dan “sains”, sehingga wajar kalau hasilnya banyak menunjukkan kecenderungan ke spekulatif dan tentatif (belum tentu, sementara waktu, dan masih bisa berubah). Oleh sebab itu wajar pula bila ada semetara ahli yang menilai bahwa hasil bimbingan selama ini baru bersifat “supervisial”, kulit luarnya saja’, atau tidak tuntas” (M.D. Dahlan, 1988: 25).
Mencermati keterbatasan aliran-aliran psikologi seperti disajikan di atas, maka wajar jika para ahli bimbingan dan psikologi menyarankan agar menyempurnakannya dengan menjadikan ajaran agama sebagai “acuan”[1].
Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas fungsi bimbingan konseling dan kegiatannya yang didasarkan agama Islam. Karena bimbingan dan konseling islami bertujuan agar manusia menjalani kehidupan dunia sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah SWT, selain itu fungsi dan kegiatan bimbingan dan konseling lebih tepat dan bermanfat serta dianjurkan untuk digunakan oleh umat muslim.



 
BAB II
PEMBAHASAN
FUNGSI DAN KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAMI

A.    Fungsi Bimbingan dan Konseling Islami
            Dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menghadapi era globalisasi dewasa ini, ditemukan individu-individu yang sibuk dengan urusan dunia, materialistik, individualistik dan lain sebagainya sehingga melahirkan prilaku dan sikap sombong, kikir, zalim, bodoh dan sebagainya.
            Dalam kondisi penyimpangan dari perkembangan fitrah beragama yang sedemikian, maka individu akan menemukan dirinya terlepas dari hubungannya dengan Allah SWT  meskipun hubungan dengan manusia berjalan baik. Adapun individu yang terlepas hubungannya dengan manusia  lain atau alam semesta, meskipun hubungan dengan Allah SWT tetap terjalin. Bahkan kita menemukan pula individu yang sama sekali tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Allah SWT, manusia dan alam semesta.
            Padahal manusia hidup di dunia ini mengemban dua tugas pokok, yaitu; sebagai pengabdian (Abidillah) kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an;
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(Q.S. Adz-Dzariat: 56)
Dan sebagai pengelola alam atau memakmurkan (khalifatullah) dimuka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an;
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
Artinya: “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah: 30)
            Keduanya harus berjalan bersama-sama secara seimbang sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, walaupun hanya sebatas kemampuan maksimal manusia. Orang tidak dibenarkan hanya mengejar kesenangan dunia semata tetapi melupakan kehidupan akhirat begitu juga sebaliknya, tetapi kedua-duanya harus berjalan bersama-sama[2].
            Pada saat itulah diperlukan bimbingan konseling islami yang berfungsi untuk menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama tersebut sehingga individu kembali sadar akan eksestensinya sebagai abdullah dan khalifah dimuka bumi yang berfungsi untuk mengabdi kepada Allah SWT[3]. Sehingga bimbingan konseling islami ini tidak terbatas pada bidang ibadah seorang muslim saja, tapi juga berfungsi menanggulangi berbagai bidang dan aspek kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Karena ajaran agama islam mengatur seluruh bidang dan aspek kehidupan. 
Jadi, secara umum fungsi dari bimbingan dan konseling Islami itu sebagai berikut:
1.      Fungsi pemahaman; yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan[4].
2.      Fungsi preventif; yakni membantu individu menjaga atau mencegah timbulnya masalah bagi dirinya.
3.      Fungsi kuratif atau korektif; yakni membantu individu memecahkan masalah yang sedang dihadapi atau dialaminya.
4.      Fungsi freservatif; yakni membantu individu menjaga agar situasi dan kondisi yang semula tidak baik (mengandung masalah) menjadi baik (terpecahkan) dan kebaikan itu bertahan lama (in state of good).
5.      Fungsi developmental atau pengembangan; yakni membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak memungkinkannya menjadi sebab munculnya masalah baginya[5].

B. Kegiatan Bimbingan dan konseling Islami
Bimbingan dan konseling Islam melakukan kegiatan yang dalam garis besarnya disebutkan sebagai berikut:
1.      Membantu individu mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya sesuai dengan hakekatnya, atau memahami kembali keadaan dirinya, sebab dalam keadaan tertentu dapat terjadi individu tidak mengenal atau tidak menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa bimbingan dan konseling Islam “mengingatkan kembali individu akan fitrahnya”.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ    
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum :30).
2.      Membantu individu menerima keadaan dirinya sebagaimana adanya, segi baik dan buruknya, kekuatan serta kelemahannya. Sebagai sesuatu yang memang telah ditetapkan Allah (nasib atau takdir), tetapi juga menyadari bahwa manusia diwajibkan untuk berikhtiar, kelemahan yang ada pada dirinya bukan untuk terus menerus disesali, dan kekuatan atau kelebihan buikan pula untuk membuatnya lupa diri. Dalam satu kalimat singkat dapatlah dikatakan sebagai membantu individu Tawakkal atau berserah diri kepada Allah. Dengan tawakkal atau berserah diri kepada Allah berarti meyakini bahwa nasib baik-buruk dirinya itu ada hikmahnya yang bias jadi manusia tidak tahu.
#Ó|¤tãur br& (#qèdtõ3s? $\«øx© uqèdur ׎öyz öNà6©9 ( #Ó|¤tãur br& (#q6Åsè? $\«øx© uqèdur @ŽŸ° öNä3©9 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw šcqßJn=÷ès? ÇËÊÏÈ
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pahala amat baik bagimu dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)
3.      Membantu individu memahami keadaan (situasi dan kondisi) yang dihadapi saat ini. Kerapkali masalah yang dihadapi individu tidak dipahami si individu itu sendiri, atau individu tidak merasakan/ tidak menyadari bahwa dirinya sedang menghadapi masalah, tertimpa masalah. Bimbingan dan konseling Islam membantu individu merumuskanmasalah yang dihadpinya dan membantunya mendiagnosis masalah yang sedang dihadapinya itu. Masalah bias timbul dari bermacam faktor, bimbingan dan konseling Islami membantu individu melihat factor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
4.      Membantu individu menemukan alternative pemecahan masalah. Bimbingan dan konseling Islam, pembimbing atau konselor tidak memecahkan masalah tidak mentukan jalan pemecahan masalah tertentu, melainkan sekedar menunnjukan alternative yang disesuaikan dengan kadar intelektual (“qodri’aqli”) masing-masing individu. Secara Islami, tetapi pemecahan masalah (rohaniah) individu, seperti yang dianjurkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;
  1. Berlaku Sabar
Nä3¯Ruqè=ö7oYs9ur &äóÓy´Î/ z`ÏiB Å$öqsƒø:$# Æíqàfø9$#ur <Èø)tRur z`ÏiB ÉAºuqøBF{$# ħàÿRF{$#ur ÏNºtyJ¨W9$#ur 3 ÌÏe±o0ur šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ   tûïÏ%©!$# !#sŒÎ) Nßg÷Fu;»|¹r& ×pt7ŠÅÁB (#þqä9$s% $¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmøs9Î) tbqãèÅ_ºu ÇÊÎÏÈ   y7Í´¯»s9'ré& öNÍköŽn=tæ ÔNºuqn=|¹ `ÏiB öNÎgÎn/§ ×pyJômuur ( šÍ´¯»s9'ré&ur ãNèd tbrßtGôgßJø9$# ÇÊÎÐÈ     
Artinya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang jika di timpa musibah mereka segera mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kita ini milik allah dan kepadanyalah kita akan kembali). Mereka itulah yang mendapat berkat yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 155-157).
Menurut Al-Qur’an dengan demikian yang  diobati pertama-tam dan terutama adalah mental, yaitu hati diberi kekuatan dan kepercayaan setelah itu baru segi-segi fisiologis dan lainnya.
  1. Membaca dan Memahami Al-Qur’an
Al-Qur’an selain merupakan petunjuk hidup, juga merupakan penawar bagi hati yang sedang tidak menetu.
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrßÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ  
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu dan penyembuh dari penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57).
  1. Berzikir atau mengingat Allah
Ÿwr& Ìò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ
Artinya: “Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati itu menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’ad)
5.      Membantu individu mengembangkan kemampuan mengantisipasi masa depan, sehingga mampu memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan keadaan-keadaan sekarang, atau memperkirakan akibat yang bakal terjadi manakala sesuatu tindakan atau perbuatan saat ini dikerjakan. Dengan demikian individu akan berhati-hati melakukan sesuatu perbuatan atau memilih alternative tindakan, karena sudah mampu membayangkan akibatnya, sehingga kelak tidak akan menimbulkan masalah bagi dirinya dan orang lain.
`ÏBur ÏNºtyJrO È@ϨZ9$# É=»uZôãF{$#ur tbräÏ­Gs? çm÷ZÏB #\x6y $»%øÍur $·Z|¡ym 3 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ÇÏÐÈ      
Artinya: “Dan dari buah kurma dan anggur kamu dapat membuat minuman yang memabukkan atau rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi oaring-orang yang memikirkan” (Q.S. Nahl : 67).
yxä.ur Èà)¯R y7øn=tã ô`ÏB Ïä!$t6/Rr& È@ß9$# $tB àMÎm7sVçR ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù 4 x8uä!%y`ur Îû ÍnÉ»yd ,ysø9$# ×psàÏãöqtBur 3tø.ÏŒur tûüÏYÏB÷sßJù=Ï9 ÇÊËÉÈ  
Artinya: “Dan semua kisah Rasul-rasul Kami ceritakan (kepadamu) ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan imanmu (hatimu); dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. Huud: 120).
Pengalaman masa lampau, termasuk pengalaman orang lain, merupakan cermin untuk meneropong masa depan; mana yang baik (bermanfaat) dan mana yang tidak baik (membawa mudarat)[6].














BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Bimbingan konseling islami yang berfungsi untuk menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama tersebut sehingga individu kembali sadar akan eksestensinya sebagai abdullah dan khalifah dimuka bumi yang berfungsi untuk mengabdi kepada Allah SWT.
Secara umum fungsi dari bimbingan dan konseling Islami itu sebagai berikut:
Fungsi pemahaman, Fungsi preventif, fungsi kuratif atau korektif, fungsi freservatif, dan fungsi developmental atau pengembangan.
Bimbingan dan konseling Islam melakukan kegiatan yang dalam garis besarnya disebutkan sebagai berikut:
1.      Membantu individu mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya sesuai dengan hakekatnya,
2.      Membantu individu menerima keadaan dirinya sebagaimana adanya, segi baik dan buruknya, kekuatan serta kelemahannya
3.      Membantu individu memahami keadaan (situasi dan kondisi) yang dihadapi saat ini.
4.      Membantu individu menemukan alternative pemecahan masalah.
5.      Membantu individu mengembangkan kemampuan mengantisipasi masa depan, sehingga mampu memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan keadaan-keadaan sekarang, atau memperkirakan akibat yang bakal terjadi manakala sesuatu tindakan atau perbuatan saat ini dikerjakan.







DAFTAR PUSTAKA

Sutoyo, Anwar, Bimbingan Dan Konseling Islami, Semarang, CV. Cipta Prima Nusantara, 2007.
Hayat, Abdul, Konsep-konsep Konseling Berdasarkan Ayat-ayat Al-Qur’an, Banjarmasin, Antasari Press,  2007.
Hallen A., Bimbingan Konseling, Ciputat, Quantum Teaching, 2005.
Faqih, Ainur Rahim, Bimbingan dan Konseling Islami, Jogyakarta, UII Press, 2004.





[1] Dr. Anwar Sutoyo, M.Pd, Bimbingan Dan Konseling Islami, (Semarang: CV. Cipta Prima Nusantara, 2007), h. 2-4
[2] Abdul Hayat, Konsep-konsep Konseling Berdasarkan Ayat-ayat Al-Qur’an, (Banjarmasin: Antasari Press, 2007), h. 48.
[3] Dra. Hallen A., M.Pd, Bimbingan Konseling, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), Cet. ke-3, h. 17-19
[4] Ibid, h. 56.
[5] Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling Islami, (Jogyakarta: UII Press, 2004), Cet. ke-3, h. 37
[6] Ibid, h. 37-44.
TUGAS BERSTRUKTUR                                         BIMBINGAN KONS. KEAGAMAAN
DOSEN PENGASUH                                          MASYITAH, M. Pd.I




PEMBIMBINGAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM










Disusun oleh:

                        SAPRIADI                                NIM. 0701218065
                              SITI MAIMUNAH                      NIM. 0701218124
                              MUHAMMAD ZA’IM                  NIM. 0701218057




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2009

TUGAS BERSTRUKTUR BIMBINGAN KONS. KEAGAMAAN
DOSEN PENGASUH MASYITAH, M. Pd.I


PEMBIMBINGAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM











Disusun oleh:

SAPRIADI NIM. 0701218065
SITI MAIMUNAH NIM. 0701218124
MUHAMMAD ZA’IM NIM. 0701218057




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar