Sabtu, 19 Februari 2011

KESULITAN BELAJAR



BAB II
PEMBAHASAN
MASALAH KESULITAN BLAJAR
A.    Pengertian Kesulitan Belajar
Sebelum membahas pengertian kesulitan belajar perlu di ketahui dulu kegagalan belajar itu seperti apa? Menurut Burton kegagalan belajar  didevinisikan sebagai berikut:
1.      Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (Level of Masteri) minimal dalam pelajaran tertenbtu, seperti yang ditetapkanoleh orang dewasa atau guru (criterion referenced). Dalam konteks system pendidikan di Indonesia angka nilai batas lulus (pasing grae, grade-standard-basis) itu ialah angka 6 atau 60 atau C (60 % dari tingkat ukuran yang diharapkan atau ideal). Kasus siswa seperti bisa digolongkan ke dalam lower group.
2.      Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: intelegensi, bakat). Ia diramalkan (predicted) akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya. Kasus siswa ini dapat digolngkan ke dalam under archivers.
3.      Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian social sesuai dengan  organismiknya (his organismic pattern0 pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok social dan usia yang bersangkutan (norm-referenced). Kasus siswa bersangkutan dapat dikatagorikan ke dalam slow learners.
4.      Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan (level of mastery) yuang diperlukan sebagai persyarat (prequisite0 bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pembelajaran berikutnya. Kasus siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learners atau belum matang (Immature) sehingga mungkin harus menjadi pengulang (repeatrs) pelajaran.
Dari keempat definisi diatas, dapat kita simpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan  ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allwed dan atau tingkat perkembangannya)[1].
Sehingga adalah suatu pendapat yang keliru dengan mengatakan bahwa kesulitan belajar anak didik disebabkan rendahnya intelegensi. Karena dalam kenyataannya bcukup banyak anak didik yang memiliki intelegensi yang tinggi, tetapi hasil belajarnya rendah, jauh dari yang diharapkan. Dan masih banyak anak didik dengan integensi yang rata-0rata normal, tetapi dapat meraih prestasi belajar yang tinggi, melebihi kepandaian anak didik dengan intelegensi yang tingg. Tetapi juga tidak disangkal bahwa intelegensi yang tinggi member peluangyang besar bagi anak didik untuk meraih prestasi belajar yang tinggi. Oleh karena itu, selain factor intelegensi, factor non intelegensi juga diakui dapat menjadi penyebab kesulitan belajar bagi anak didik dalam belajar.
Kesulitan belajar yang diraskan oleh anak didik bermacam-macam, yang dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut;
1.      Dilihat dri jenis kesulitan belajar:
-          Ada yang berat
-          Ada yang sedang
2.      Dilihat dari mata pelajaran yang dipelajari:
-          Ada yang sebagian mata pelajaran
-          ada yang sifat sementara
3.      dilihat dari sifat kesulitannya;
-          ada yang sifatnya menetap
-          ada yang sifatnya sementara
4.      dilihat dari segi factor penyebabnya:
-          ada yang factor intelegensi
-          ada yang karena factor non-inteligensi.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah kesulitan belajar adalah suatukondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan[2]. Sehingga kesulitan belajar merupakan ketidak mampuan anak didik untuk belajar secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya karena ada faktor-faktor yang mempengaruhinya.

B.     Beberapa Penyebab Kesulitan Belajar
Secara umum Sumadi Suryabrata membagi factor-faktor yamg mempengaruhi belajar menjadi dua yaitu:
1.      Factor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan menjadi dua golongan dengan catatan bahwa overlapping tetap ada, yaitu:
a.       Factor-faktor nonsosial, dan
b.      Factor-faktor social
2.      Factor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapt lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:
a.       Factor-faktor fisiologis, dan
b.      Factor-faktor psikologis[3]
Selain factor-faktor yang bersifat umum diatas, ada pula factor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar anak didik. Factor-faktor ini dipandang sebagai factor khusus. Misalnya sindrom psikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar). Sindrom (syndrome) berarti suatuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis yang meniimbulkan kesulitan belajar anak didik. Sindrom itu misanya disleksia (dyslexia), yaitu ketidak mampuan belajar membaca, disgrefia (dysgrephia), yaitu ketidak mampuan belajar menulis, diskalkulia (dyscalculiai), yaitu ketidak mampuan belajar matematika.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, jika sudut pandang diarahkan pada aspek lainnya, maka fakto-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik dapat dibagi menjadi factor anak didik, sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.
1.      Faktor anak didik
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang  atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikkan. Anak didik bukan binatang, tetapi ia adalah manusia yang mempunyai akal. Anak didik adalah unsure manusiawi yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan ebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagi pokok persoalan, anak didik memiliki kedudukan yang menempati posisi yang mnentukan dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunya arti apap-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai subjek pmbinaan. Jadi, anak didik adalah “kunci“ yang menentukan untuk terjadinya interaksi edukatif[4].
Untuk mendapat gambaran factor-faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik, maka akan dikemukakan sebagai berikut ini:
a.       Inteligensi (IQ) yang kurang baik
b.      Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau yang diberikan oleh guru.
c.       Factor emosional yang kurang stabil. Misalnya, mudah tersinggung, pemurung, pemarah, selalu bingung dalam menghadapi masalah, selalu sedih tanpa ada alasan yang jelas, dan sebagainya.
d.      Aktifitas belajar yang kurang. Lebih banyak malas dari pada melakukan kegiatan belajar. Menjelang ulangan baru belajar.
e.       Kebiasaan belajar yang kurang baik. Belajar dengan penguasaan  ilnu pengetahuan pada tingkat hafalan, tidak dengan pengertian (insight), sehingga sukar ditransfer kesituasi yang lain.
f.       Penyesuaian social yang sulit. Cepatnya penyerapan bahan pelajaran oleh anak didik tertentu menyebabkan anak didik susah menyesuaikan diri untuk membaginya dalam belajar.
g.      Latar belakang pengalaman yang pahit. Misalnya, anak didik sekolah smbil kerja. Kemiskinan ekonomi orang tuanya memaksa anak didik harus bekerja demmi membiayai sendiri uang sekolah. Waktu yang seharusnya dipakai untuk belajar dengan sangat terpaksa digunakan untuk bekerja.
h.      Cita-cita yang tidak relevan
i.        Latar belakang pendidikan yang dimasuki dengan system social dan kegiatan belajar mengajar dikelas yang kurang baik.
j.        Ketahanan beljar (lama belajar) tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
k.      Keadaan fisik yang kurang menunjang.
l.         Kesehatan yang kurang baik.
m.    Seks atau pernikahan yang kurang terkendali. Mialnya, berpacaran, dan sebagainya.
n.      Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang memadai (kurang mendudkung) atas bahan yang dipelajari.
o.      Tidak ada motivasi dalam belajar[5].
2.      Factor sekolah
Factor-faktor dari lingkungan sekolah yang dianggap dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak didik yaitu:
a.       Pribadi guru yang kurang baik.
b.      Guru tidak berkualitas, baik dalam pengambilan metode yang digunakan ataupun dalam penguasaan mata pelajaran yang dipegangnya.
c.       Hubungan guru dengan anak didik kurang harmonis. Hal ini bermula dari sifat dan skap guru yang tidak disenangi oleh anak didik. Karena dalam prinsip-prinsip pengelolaan kelas yaitu hangat dan antusias, hangat dan antusias sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil mengimplementasikan pengelolaan kelas[6].
d.      Guru-guru menuntut standart pelajaran diatas kemampuan anak.
e.       Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik.
f.       Cara guru mengajar yang kurang baik. Dimana sebenarnya guru harus mengajar dengan baik, ada memiliki strategi belajar mengajar yang meliputi, 1) menetapkan spisikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku, 2) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, 3) memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar, dan 4) menerapkan norma dan criteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar[7].
g.      Alat atau media yang kurang memadai. Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang baik. Dimana menurut Muhammad Ramli, salah satu fungsi media itu adalah meningkatkan produkfitas pesan-pesan pembelajaran yang disajikan, karena ia dapat mempercepat pemahaman pembelajaran terhadap materi yang bersangkutan, sehingga secara langsung membantu penggunaan waktu secara efektif, dan meringankan beban guru yang bersangkutan[8].
h.      Perpustakaan sekolah kurang memadai dan kurang merangsang penggunaannya oleh anak didik.
i.        Fasilitas fisik sekolah yang tak memenuhi syarat kesehatan dan tak terpelihara dengan baik.
j.        Suasana sekolah yang kurang menyenangkan.
k.      Bimbingan dan penyuluhan yang tidak berfungsi.
l.        Kepemimpinan dan administrasi.
m.    Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
3.      Faktor keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan informal (luar sekolah) yang diakui keberadaannya dalam dunia pendidikan. Peranannya tidak kalah pentingnya dari lembaga formal dan non-formal. Bahkan sebelum anak didik memasuki suatu sekolah, dia sudah mendapatkan pendidikan dalam keluarga yang bersifat kodrati. Hubungan darah antara kedua orang tua dengan anak menjadikan keluarga sebagai lembaga pendidikan yang alami.
Ketika orang tua tidak memperhatikan pendidikan anak. Maka lingkungan keluarga yang demikian ikut terlibat menyebabkan kesulitan belajar anak. Oleh karena itu, ada beberapa factor dalam keluarga yang menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik sebagai berikut.
a.       Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak didik dirumah.
b.      Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orang tua sehingga anak harus ikut memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk biaya sekolah hingga tamat.
c.       Anak tidak mempunyai ruang dan te,mpat belajar yang khusus di rumah.
d.      Ekonomi keluarga yang terlalu lemah atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan.
e.       Kesehatan keluarga yang kurang baik.
f.       Perhatian orang tua yang tidak memadai.
g.      Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang.
h.      Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan. Orang tua pilih kasih dalam mengayomi anak.
i.        Anak yang terlalu banyak membantu orang tua. Untuk keluarga tertentu sering ditemukan anak yang terlibat langsung dalam pekerjaan orang tuanya sepertiu mencuci pakaian, memasak nasi didapur, iut berjualan ikut mengasuh adaiknya, dan sebagainya.
4.      Factor masyarakat sekitar
Jika keluarga merupakan komunitas masyarakat terkecil, maka masyarakat adalah komunitas masyarakatdalam kehidupan social yang tersebar. Dalam masyarakat, terpatri sastra social yang merupakan penjelmaan dari suku,ras, agama, antar golongan,pendidkan, jabatan status dan sebagainya. Pergaulan yang terkadang kurang bersahabatsering memicu konflik social. Gossip bukanlah ucapan haram dalm pandang masyarakattertentu. Keributan, pertengkaran, perkelahian, perampokan, pembunuhan, perjudian merupakan bagian juga dari masyarakat. Dan sekarang ini prilaku kejahatan modern seperti tawuran antar pelajar yang tentu menjadi factor kesulitan belajar.
Anak didik hidup dalam komunitas masyarakat yang hiterogen adalah suatu kenyataan yang harus diakui. Kegaduhan, kebisingan, keributan , perkelahian, kemalingan, pertengkaran dan sebagainya sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang hiterogen. Bahkan media elektronik seperti televise yang seharusnya berfungsi sebagai media pendidikan, sebagai media informasi, dan sebagai media hiburan, ternyata sangat mengecewakan. Kepentingan bisnis sampai hati menelantarkan aspek moral, etika, dan susila.
Kelompok gangster yang menjadi teman anak didik dimasyarakat juga sisi lain dari kelompok anak-anak yang dapat menyulitkan anak didik dalam belajar[9]. Baru-baru ini internet juga merupakan lingkungan masyarakat yang dapat membuat gangguan terhadap proses belajar, walaupun pada awalnya sebagi informasi yang sangat bermanfaat bagi pendidikan, tapi kenyataannya banyak anak yang hanya bermain game online, dan bahkan yang parah lagi internet digunakan sebagai sarana untuk mengakses pornografi.

C.     Cara Mengenal Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebgai indicator adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat dari petunjuk-petunjuk berikut
1.      Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, dibawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik dikelas.
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.      Anak didik lambat dalam mengerjakan tuhgas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal.
4.      Anak didik menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung dan sebagainya.
5.      Anak didik menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya ditunjukkan kepada orang lain.
6.      Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi, yang secara potensialmereka seharusnya dapatmeraih prestasi belajar yang tinggi, tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7.      Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran, tetapi dilain waktu prestasi belajarnya menurun drastic.
Dari semua gejala yang tampak itu guru bisa mnginter-pretasi atau mempridiksi bahwa anak didik kemungkinan mengalami kesulitan belajar. Atau bisa juga dengan cara lain, yaitu melakukan penyelididikan dengan cara:
1.      Observasi
Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap obyek. Sambil mlakukan observasi, dilakuykan pencatatan terhadap gejala-gejala yang tampak pada diri subjek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
2.      Interviu
Interviu adalah suatu cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap orang yang diuselidiki atau terhadap orang lain seperti guru, orang tua atau teman intim anak yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki. Interviu sebagai pendukung yang akurat dari kgiatan observasi.
3.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen, yang berhubungan dengan orang yang diselidiki. Diantara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan:
-          Riwyat hidup anak didik
-          Prestasi anak didik
-          Kumpulan ulangan
-          Catatan kesehatan anak didik
-          Buku rapor anak didik
-          Buku catatan untuk semua mata pelajaran dan sebagainya.
4.      Tes diagnostik
Tes diagnostic dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes ini biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran berjalan. Diadakan untuk menjajaki pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai anak didik[10]. menurut Muhibbin Syah banyak langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener dan Sent (1982) sebagaimana beliau kutip dari Wardani (1991) sebagi berikut:
a.       Melakukan observasi kelas untuk melihat prilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
b.      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
c.       Mewancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
d.      Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siwa.
e.       Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar[11].

D.    Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Menurut Syaiful bahri Djamarah, secara gais besar langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment, dan evaluasi.
1.      Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi perlu diadakan pengamatan langsung terhadap objek yang bermasalah. Teknik intervieu ataupun teknik dokumentasi dapat dipakai untuk mengumpulkan data.
2.      Pengolahan data
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut:
a.       Identifikasi kasus
b.      Membandingkan antar kasus
c.       Membandingkan dengan hasil tes
d.      Menarik kesimpulan
3.      Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Tentu saja keputusan yang diambil itu setelah dilakukan analisis terhadap data yang diolah itu. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
a.       Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannyatingkatkesulitan yang dirasakan anak didik.
b.      Keputusan mengenai factor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c.       Keputusan mengenai factor utama yang menjadi sumber penyebabkesulitan belajar anak.
4.      Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar.
5.      Treatment
Treatment adalah perlakuan. Perlakuan disini dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:
a.       Melalui bimbingan belajar individual
b.      Melalui bimbingan belajar kelompok
c.       Melalui remedial teching untuk mata pelajaran tertentu.
d.      Melalui bimbingan orang tua di rumah.
e.       Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
f.       Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.
g.      Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai denagn karakteristik setiup mata pelajaran.
6.      Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, atau gagal sama sekali. Kemungkinan gagal atau berhasil treatment yang telah diberikan kepada anak, dapat diketahui sejauh mana kebenaran jawaban anak terhadap item-item soal yang diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam materimateri tertentumelalui alat evaluasi berupa tes prestasi belajar atau achievement test.


[1] Abin Syamsuddin makmum, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), cet. ke-3, h. 307-308
[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2008), cet. ke-2, 234-235
[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo persada, 2006), h. 233 
[4] Syaiful Bahri Djamarah, guru dan Anak Didik dalam interaksi Edukatif Suatu pendekatan Teoretis Psikologis, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), cet. ke-2, h.  51
[6] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), cet. ke-2, h. 207
[7] Syaiful bahri dan Aswan zain
[8] Muhammad Ramli,
[9] Syaiful bahri djamarah
[11] Muhibbin Syah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar